Senin, 12 Desember 2011

Pemenang

Orang-orang yang sukses meniti karir adalah mereka yang memiliki mentalitas pemenang. Sudah bukan rahasia lagi kalau perusahaan akan mencari orang-orang yang tangguh, bukan orang-orang yang rewel maupun manja di tempat kerja. Itu sebabnya stoplah sikap manja di tempat kerja, karena sikap itu tidak akan pernah membawa kita naik lebih tinggi. Sikap manja seperti apa saja yang harus kita hilangkan?

Satu, mengeluh. Tiada hari tanpa keluhan. Masalah kecil saja sudah cukup untuk membuka mulutnya mengungkapkan keluhan. Mengeluh karena pekerjaan yang sedikit lebih berat dari biasanya. Mengeluh karena harus lembur. Mengeluh karena rapat yang selesai molor. Mengeluh karena ruang kerja yang sedikit panas, dll. Ingat, mengeluh tidak serta merta membuat orang lain merasa kasihan kepada kita, justru keluhan itu menimbulkan kejengkelan, sekaligus menunjukkan betapa rapuhnya kita.

Dua, tidak mandiri. Ada beberapa orang yang tidak pernah mandiri dalam bekerja. Selalu bergantung kepada orang lain. Selalu minta tolong ini itu. Lebih parah lagi, tidak pernah bisa mengerjakan tugasnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Bagaimana kita bisa sukses kalau sikap kita di tempat kerja seperti itu? Belajarlah untuk mandiri.

Tiga, selalu mendramatisir keadaan. Selalu menunjukkan bahwa dialah orang yang paling menderita karena menerima pekerjaan yang paling berat. Masalah kecil pun dibesar-besarkan untuk menunjukkan bahwa hanya dia seorang yang perlu dikasihani. Tentu kebiasaan mendramatisir keadaan justru membuat kita tidak pernah dipercaya untuk hal yang lebih besar. Bagaimana bisa dipercaya untuk hal yang lebih besar kalau masalah-masalah kecil saja ia tidak mampu menangani? Empat, selalu minta dimaklumi. Minta dimaklumi kalau sampai terlambat di tempat kerja, alasannya klasik, mulai dari anak yang rewel sampai jalanan yang macet. Minta dimaklumi kalau pekerjaan belum selesai karena seribu satu alasan. Minta dimaklumi karena ini itu. Stop manja di tempat kerja!

Milikilah mentalitas pemenang, bukanlah mentalitas yang manja. - Kwik -

Atur Waktu

Jangan selalu berpikir bahwa orang sukses adalah orang yang super sibuk hingga sampai kekurangan waktu. Orang sukses adalah mereka yang bisa mengatur waktu dengan bijak hingga ia merasa 24 jam dalam sehari adalah waktu yang sangat cukup untuk menikmati pekerjaan, keluarga, hobi, dan hubungan dengan Tuhan. Jika dengan 24 jam sehari kita masih merasa kurang waktu, itu memberi indikasi bahwa kita belum bisa mengatur waktu kita dengan bijak. Pengelolaan waktu yang bijak sangat penting untuk memaksimalkan pekerjaan kita sehari-hari. Berikut ini ada tujuh teknik yang bisa membantu Anda mengelola waktu dengan lebih bijak.

Satu, buatlah skala prioritas. Susunlah skala prioritas yang tepat, yaitu dengan mendahulukan lebih dulu pekerjaan yang penting dan mendesak, kemudian pekerjaan yang mendesak meski tidak begitu penting, dilanjutkan dengan pekerjaan yang penting dan tidak mendesak. Prioritas terakhir adalah pekerjaan yang tidak penting dan juga tidak mendesak.

Dua, kelompokkanlah aktivitas-aktivitas yang berkaitan untuk menghemat waktu. Cara ini sangat efektif agar kita tidak boros waktu atau membuang waktu dengan percuma.

Ketiga, bagilah pekerjaan besar menjadi tugas-tugas kecil, ini akan membuat pekerjaan kita terlihat lebih mudah untuk diselesaikan.

Keempat, buatlah dead-line untuk setiap pekerjaan kita. Dengan cara ini kita akan selalu terpacu untuk lebih mendisplin diri menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu.

Kelima, jangan mengerjakan beberapa tugas sekaligus, sebaliknya kerjakanlah satu per satu. Ini akan membuat kita kebih konsentrasi, waktu pun bisa lebih dihemat.

Keenam, selesaikanlah pekerjaan kita sampai tuntas. Jika tidak tuntas, suatu saat kita pasti akan meluangkan waktu yang lebih banyak untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai tersebut.

Ketujuh, lakukanlah sekarang dan jangan menundanya. Jika kita menundanya, kita tetap saja harus menyelesaikan pekerjaan tersebut, plus bunga penundaannya! Akibatnya, waktu kita akan lebih boros lagi. Jadi, bijak-bijaklah mengatur waktu.

Bukan masalah waktu 24 jam sehari yang kurang, tapi cara mengelola waktu yang kurang bijak.
(Kwik)

Rabu, 04 Mei 2011

Persaingan

Inilah waktu untuk berkompetisi. Di era global ini jarang dan hampir tak ada yang bisa menjadi pemilik pasar. Semua lobang sudah terisi oleh persaingan yang ketat. Jika tak siap dalam dunia bisnis yang makin kompetitif, bisa dipastikan kita akan tereliminasi. Hal yang sama juga berlaku bagi kita sebagai pekerja. Jika potensi kita tak berkembang, atau prestasi kita sangat minim atau produktifitas kerja kita jauh dari kata efisien dan efektif, maka siap-siaplah kita meninggalkan kursi dan sebaliknya mempersilakan orang lain yang akan menempatinya.

Namun sungguh bijak seandainya kita tidak membenci situasi yang mengharuskan kita untuk berkompetisi, apalagi harus membenci pesaing kita. Sebab ada banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan dalam sebuah kompetisi jika kita bisa menyikapi dengan sudut pandang yang positif. Pertama, persaingan bisa menjadi bahan bakar untuk memacu perusahaan kita. Tanpa persaingan mungkin kinerja kita sangat biasa, namun setelah ada ancaman dari kompetitor mau tidak mau kita harus meningkatkan kinerja kita sebaik mungkin. Kalau tidak, kita akan mati!

Kedua, persaingan membuat kita tahu posisi kita. Keberhasilan pesaing bisa kita gunakan sebagai barometer atau tolak ukur. Paling tidak kita akan tahu apakah kita jauh tertinggal, ataukah sekarang ini kitalah yang jadi pemimpin pasar. Jika kita menyadari bahwa kita tertinggal, maka kita akan dengan cepat mengejar ketertinggalan itu. Ketiga, persaingan akan membuat kita makin kreatif dan inovatif. Tak ada istilah puas setelah mencapai titik tertentu. Bahkan ketika kita sudah menjadi market leader sekalipun, jika kita tak ingin posisi kita didahului oleh pesaing kita. Mau tidak mau kita akan terus berupaya untuk terus kreatif dan inovatif. Keempat, khusus bagi Anda yang hidup dalam persaingan di antara sesama rekan kerja, yakinlah bahwa dengan adanya persaingan maka Anda bisa memunculkan potensi terbaik yang Anda miliki. Anda akan terus melakukan personal improvement karena sebuah persaingan. Bukankah persaingan itu baik?

Tanpa persaingan maka kita akan menjadi statis, dan gagal mencapai yang terbaik dalam diri.
(Kwik)

Bukan Musuh

Jika saja kita punya sudut pandang yang benar atas setiap masalah yang sedang kita hadapi, tentu kita tak perlu takut, apalagi menjadi alergi dengan masalah. Masalah bukanlah musuh, masalah adalah sahabat. Jika manusia tidak pernah mengenal masalah, saya tak yakin apakah manusia bisa jadi lebih ulet, lebih maju, lebih kreatif dan menjadi lebih baik seperti sekarang ini. Justru karena manusia selalu berhadapan dengan masalah, maka manusia tak lagi statis tapi dinamis, tak lagi pasif tapi aktif, tak lagi konservatif tapi kreatif, tak lagi mandeg tapi terus maju.

Who Moved My Cheese, tulisan Spencer Johnson menceritakan tentang dua tikus dan dua kurcaci dalam sebuah labirin yang terdapat keju. Saat keju-keju itu dipindahkan tentu ini jadi masalah besar bagi mereka. Dua kurcaci menjadi marah, frustasi dan stress. Sebaliknya, dua ekor tikus bisa menyikapi masalah dengan cara yang tepat. Masalah tak membuatnya merenungi nasib yang malang, namun justru membuatnya keluar dan mulai mengadakan penyusuran di labirin. Sampai akhirnya penyusuran itu menghantarkan mereka ke sebuah pojok labirin yang penuh dengan keju, bahkan jauh lebih banyak daripada yang dulu. Keju yang dipindahkan adalah masalah tapi itu telah menghantarkan mereka ke tempat keju yang lebih banyak lagi!

Demikian juga banyak tokoh-tokoh Dunia menjadi luar biasa bukan karena keadaan yang biasa-biasa. Mereka menghadapi masalah besar, namun berhasil meresponinya dengan tepat. Seringkali masalah yang kita anggap sebagai musuh sebenarnya adalah pintu menuju kesuksesan. Jika kita memiliki keberanian untuk menghadapi masalah itu dan berusaha untuk membukanya, maka kesuksesan besar sudah menanti. Sebaliknya kalau jiwa kita terlalu kerdil untuk berhadapan dengan masalah itu, maka jalan kesuksesan yang lebih besar juga tak pernah terbuka, tak heran kalau kehidupan kita ya begitu-begitu saja. Padahal seharusnya kehidupan kita terus bergerak maju dan menjadi lebih baik lagi, seperti kata George Knox, "Kalau Anda tidak lagi menjadi lebih baik, Anda tidak lagi baik."

Masalah yang kita anggap sebagai musuh sebenarnya adalah pintu menuju kesuksesan.
(Kwik)

Kamis, 31 Maret 2011

Team Work

Saya selalu berpikir bahwa sebuah tim olahraga yang bertaburan dengan bintang, pasti akan mendulang sukses dan menjadi juara. Memang tak dapat disangkal lagi bahwa kemampuan dan keahlian individu sangat berpengaruh pada potensi tim, namun ternyata itu bukan segala-galanya. Ada satu hal lagi yang lebih penting dari pada sekedar skill individu, yaitu kerja sama dalam tim!

Bagi Anda yang suka sepak bola, mungkin masih membekas kuat di benak kita kejuaraan euro-champion pada tahun 2004. Sang juara bukanlah Italia, Inggris, Perancis, Belanda ataupun Spanyol yang bertebaran bintang, tapi justru Yunani yang sama sekali tidak diperhitungan dan dianggap sebagai tim underdog. Tidak salah juga jika tim Yunani sama sekali tidak diperhitungkan, sebab mereka memang tak punya pemain yang sangat menonjol, namanya saja kita hampir-hampir tidak pernah mendengarnya. Lalu apa kunci kesuksesan mereka sehingga mereka berhasil mempecundangi tim-tim unggulan? Kerja sama tim!

Untuk meraih kesuksesan, kerja tim yang solid mutlak diperlukan. Jika tak ada kerja sama yang bagus, ini akan sangat memperlambat kinerja keseluruhan. Menjadi tugas seorang pemimpin untuk membuat sebuah tim kerja yang solid, ini akan berdampak besar bagi kemajuan perusahaan. Saya cuplikan kata-kata bagus dari Michael Jordan, bintang NBA , "Ada banyak tim dalam setiap olahraga yang memiliki pemain-pemain hebat tetapi tidak pernah memenangkan pertandingan. Seringkali, pemain-pemain tersebut tidak mau berkorban untuk kebesaran tim yang lebih baik. Hal yang menggelikan adalah, pada akhirnya keengganan mereka untuk berkorban hanya membuat tujuan-tujuan pribadi lebih sulit dicapai. Satu hal yang saya percayai adalah jika Anda berpikir dan mencapai sesuatu sebagai sebuah tim, penghormatan pribadi akan datang dengan sendirinya.” Kerja sama tim itu kunci kesuksesan kita. Unsur individu memang penting, namun tidak ada yang bisa menggantikan kerja sama tim!

Satu orang dapat menjadi unsur dalam sebuah tim, tetapi satu orang tidak dapat membuat tim.

(Kwik)

Jumat, 04 Maret 2011

BUNGLON

Bunglon termasuk binatang yang sudah terlanjur memiliki citra buruk. Untuk menggambarkan seseorang yang plin plan atau tidak punya pendirian tetap, maka kita akan berkata, ah dasar bunglon! Meski demikian, saya justru melihat hal ini dari sudut pandang yang berseberangan. Warna kulit bunglon yang dengan cepat berubah-ubah sesuai tempatnya saya lihat sebagai kemampuan yang sangat hebat dalam beradaptasi dengan lingkungannya.

Sesungguhnya, kemampuan beradaptasi adalah salah satu syarat penting untuk meraih kesuksesan. Mengapa penting? Karena kita hidup di tengah-tengah dunia yang terus berubah. Jika kita menjadi begitu kaku dan sulit untuk mengikuti perubahan demi perubahan yang terjadi, atau dengan kata lain kita tidak mampu beradaptasi dengan perubahan, maka kegagalan sudah menunggu di depan mata.

Mobil buatan Henry Ford dengan model T pernah mengalami masa kejayaan. Namun sayang, Ford tak cukup memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan selera jaman. Daripada mengikuti perkembangan jaman, Ford justru terus memproduksi mobilnya tanpa ada perubahan sedikit pun juga, termasuk warna mobilnya yang selalu hitam. Karena tidak bisa beradaptasi dengan selera konsumen yang mulai berubah, lama kelamaan mobil Ford tipe T tak lagi diminati. Sayang, hanya karena tak bisa beradaptasi maka mobil Ford menjadi tertinggal.

Jika kita memiliki kemampuan beradaptasi, maka kita tak begitu kesulitan membaca perubahan-perubahan yang sedang terjadi dan bagaimana menyikapi perubahan-perubahan itu dengan kreatif. Beradaptasilah dengan masalah yang harus kita hadapi. Beradaptasilah dengan kegagalan yang terjadi. Beradaptasilah dengan kesalahan fatal yang kita buat. Beradaptasilah dengan keberhasilan yang telah Anda capai. Beradaptasilah dengan lingkungan kerja Anda dan menyikapi hal-hal baru yang sedang terjadi. Selamat beradaptasi!

Kemampuan beradaptasi akan menjadi kunci sukses bagi kita.



(Kwik)

Kamis, 03 Maret 2011

Asal Bapak Senang

Jika Anda seorang pekerja atau seorang staf dalam sebuah perusahaan, ini adalah soal menghargai atasan! Menghargai atasan jelas beda jauh dengan menjilat atasan. Jadi jangan berpikir bahwa saya sedang mengajak Anda untuk menyenangkan atasan secara berlebihan dengan tendensi-tendensi tertentu. Sejujurnya saya sendiri juga sebal jika melihat seorang karyawan melakukan aksi "Asal Bapak Senang". Senyum yang dibuat-buat, ekspresi wajah yang sengaja dimanis-maniskan, tertawa berlebihan saat mendengar lelucon atasan yang sama sekali tidak lucu, padahal sebenarnya ia tidak melakukan semuanya itu dengan ketulusan.

Menghargai atasan berarti kita menaruh respek dan kepercayaan terhadap seseorang sebagai atasan kita. Kita melakukan pekerjaan dengan kualitas kerja terbaik karena ada value, baik itu bagi kemajuan perusahaan yang notabene telah menggaji kita, selain itu juga baik bagi kemajuan diri. Bukan sekedar kita ingin atasan tersenyum lebar dan tertawa senang. Jika motivasi kita hanya asal bapak senang, maka kualitas kerja kita akan menjadi berubah seratus delapan puluh derajat saat atasan sedang tidak bersama dengan kita. Seperti pepatah kuno berkata, kucing pergi tikus berpesta!

Lakukan pekerjaan dengan kualitas terbaik, entahkah atasan bersama Anda atau tidak! Itulah orang yang benar-benar menghargai atasan. Untuk melihat seperti apa Anda yang sebenarnya dalam pekerjaan tidaklah terlalu sulit, yaitu ketika tak ada atasan yang mengawasi Anda! Saya tahu persis rasanya jadi seorang atasan. Seorang atasan akan tahu apakah pekerjanya itu benar-benar menaruh respek dan menghargainya dengan sungguh-sungguh, ataukah ia hanya sekedar cari muka saja. Semakin kita menghargai atasan dengan sungguh-sungguh, maka ia juga akan menghargai kita. Namun sebaliknya jika kita melakukan aksi Asal Bapak Senang, maka ia akan "mentertawakan" kekonyolan sikap kita dan semakin kehilangan respek atas kita. Bagaimanapun juga nilai ketulusan akan terus berlaku!

Menghargai didasari dengan ketulusan, menjilat didasari dengan kepalsuan.



(Kwik)

Kamis, 18 Februari 2010

Penyakit Menunda

Kerjakanlah apa yang bisa Anda kerjakan hari ini! Jika tidak, Anda akan membayar mahal di kemudian hari. Terlalu berlebihankah? Saya rasa tidak, sebab seringkali saya harus membayar dengan mahal akibat dari penundaan yang pernah saya lakukan. Saya lebih mudah jadi stress ketika melihat setumpuk pekerjaan yang tidak ada hentinya. Saya makin frustasi ketika waktu terus bergulir mendekati dead-line yang sudah ditentukan. Waktu-waktu itulah saya berubah jadi mahkluk yang sangat sensitif. Jangan coba macam-macam dengan saya. Sedikit kata gurauan bisa berarti ucapan serius di telinga saya.
Pekerjaan yang saya lakukan pun tak ubahnya dengan kegiatan rodi yang sangat menyiksa. Saya kehilangan taste dari setiap pekerjaan yang saya lakukan. Saya sama sekali tidak bisa menikmati pekerjaan di saat terburu-buru seperti itu. Itu semua bermula dari sebuah penundaan yang saya lakukan.
Kadangkala kita juga melakukan hal yang sama, melakukan penundaan demi penundaan dengan sebuah pemikiran, “ Aku toh bisa mengerjakan keesokan harinya.” Tanpa kita tahu bahwa hari esok sudah memiliki kesibukannya sendiri. Bagi banyak orang hal ini mungkin dianggap sangat sepele, tapi bukankah kadangkala kita kehilangan kesempatan-kesempatan berharga itu berlalu begitu saja hanya karena kita menunda untuk segera melakukannya?
Jangan pernah menunda apa yang bisa kita kerjakan pada hari ini. Ini adalah salah satu prinsip kesuksesan yang sangat penting. Biasakanlah diri untuk selalu menunda-nunda, maka kesuksesan yang kita impikan juga akan tertunda. Napoleon Hill, seorang motivator berkata, “Yang berarti bukan apa yang akan Anda kerjakan melainkan apa yang sedang Anda kerjakan sekarang.” Banyak orang gagal meraih kesuksesan karena penyakit suatu hari. Mereka harusnya bisa meraih kesuksesan pada hari ini, tetapi mereka memilih untuk menundanya dan berkata akan melakukannya pada suatu hari. Apa yang bisa kita kerjakan pada hari ini adalah anugerah Tuhan yang harus kita responi dengan cepat. Jika kita menunda untuk melakukannya, ada kalanya itu berarti kita secara tidak sengaja menolak berkat dan keberhasilan yang diberikan oleh Tuhan bagi kita pada hari ini. Jadi, jangan biasakan untuk melakukan penundaan dan terjangkit dengan penyakit suatu hari.
Jangan pernah menunda apa yang bisa kita kerjakan pada hari ini. (Kwik –Spirit Motivator)

Senin, 16 November 2009

Be Yourself

Kita sering mendengar kalimat populer “Be Your Self!”, apa yang ada di benak kita ketika mendengar kalimat tersebut? Apakah arti menjadi diri sendiri? Banyak orang mengartikan kalimat be your self dengan pemahaman yang keliru. Indiyati Oetomo, International Director of John Robert Powers berkata bahwa be your self tidak hanya cukup menjadi diri sendiri. Karena menjadi diri sendiri bisa positif, tapi bisa juga negatif. Ada orang yang berprinsip, saya adalah saya, mau diterima ya begini, nggak mau ya sudah. Akhirnya, justru sisi negatiflah yang menonjol.

Menurut pemahaman saya, kalimat be your self atau menjadi diri sendiri berbicara tentang 3 hal penting tentang diri kita.

Yang pertama, menjadi diri sendiri berarti mengenal diri kita dengan benar. Kita harus tahu persis seperti apa diri kita di hadapan Tuhan. Kita harus tahu bahwa kita adalah ciptaan Tuhan yang mulia, berharga dan diciptakan dengan tujuan yang jelas. Kita harus tahu apa kelebihan kita dan apa kelemahan kita. Kegagalan yang paling fatal adalah di saat kita gagal mengenal siapa diri kita sendiri dengan benar.

Yang kedua, menjadi diri sendiri berarti kita berani mempertahankan keunikan yang ada pada diri kita. Sayangnya banyak orang justru ingin menjadi imitasi daripada original. Buktinya banyak orang selalu meniru-niru orang lain. Dalam dunia bisnis, meniru kesuksesan orang lain adalah hal yang positif, tapi itu bukan berarti kita meninggalkan keaslian atau keunikan yang ada pada diri kita. Ingatlah bahwa Tuhan menciptakan kita unik dan berbeda dari yang lain supaya kita mempertahankan keunikan kita. Alangkah bijaknya jika kita menggunakan keunikan kita tersebut sebagai salah satu modal untuk mencapai kesuksesan.

Yang ketiga, menjadi diri sendiri berarti kita memaksimalkan keunikan yang ada pada diri kita. Tentu keunikan dalam konteks ini adalah keunikan secara positif. Misalnya kita memiliki cara berpikir yang kreatif, pembawaan diri yang kreatif dan cara kerja yang kreatif, yang berbeda dari kebanyakan orang, lalu maksimalkanlah itu. Berani tambil beda, mengapa tidak? Be your self!

Be your self tidak hanya cukup menjadi diri sendiri, melainkan memaksimalkan keunikan positif diri kita.(Kwik - Spirit Motivator)

Senin, 14 September 2009

Atur Waktu

Jangan selalu berpikir bahwa orang sukses adalah orang yang super sibuk hingga sampai kekurangan waktu. Orang sukses adalah mereka yang bisa mengatur waktu dengan bijak hingga ia merasa 24 jam dalam sehari adalah waktu yang sangat cukup untuk menikmati pekerjaan, keluarga, hobi, dan hubungan dengan Tuhan. Jika dengan 24 jam sehari kita masih merasa kurang waktu, itu memberi indikasi bahwa kita belum bisa mengatur waktu kita dengan bijak. Pengelolaan waktu yang bijak sangat penting untuk memaksimalkan pekerjaan kita sehari-hari. Berikut ini ada tujuh teknik yang bisa membantu Anda mengelola waktu dengan lebih bijak.

Satu, buatlah skala prioritas. Susunlah skala prioritas yang tepat, yaitu dengan mendahulukan lebih dulu pekerjaan yang penting dan mendesak, kemudian pekerjaan yang mendesak meski tidak begitu penting, dilanjutkan dengan pekerjaan yang penting dan tidak mendesak. Prioritas terakhir adalah pekerjaan yang tidak penting dan juga tidak mendesak.

Dua, kelompokkanlah aktivitas-aktivitas yang berkaitan untuk menghemat waktu. Cara ini sangat efektif agar kita tidak boros waktu atau membuang waktu dengan percuma.

Ketiga, bagilah pekerjaan besar menjadi tugas-tugas kecil, ini akan membuat pekerjaan kita terlihat lebih mudah untuk diselesaikan.

Keempat, buatlah dead-line untuk setiap pekerjaan kita. Dengan cara ini kita akan selalu terpacu untuk lebih mendisplin diri menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu.

Kelima, jangan mengerjakan beberapa tugas sekaligus, sebaliknya kerjakanlah satu per satu. Ini akan membuat kita kebih konsentrasi, waktu pun bisa lebih dihemat.

Keenam, selesaikanlah pekerjaan kita sampai tuntas. Jika tidak tuntas, suatu saat kita pasti akan meluangkan waktu yang lebih banyak untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai tersebut.

Ketujuh, lakukanlah sekarang dan jangan menundanya. Jika kita menundanya, kita tetap saja harus menyelesaikan pekerjaan tersebut, plus bunga penundaannya! Akibatnya, waktu kita akan lebih boros lagi. Jadi, bijak-bijaklah mengatur waktu.

Bukan masalah waktu 24 jam sehari yang kurang, tapi cara mengelola waktu yang kurang bijak. (Kwik- Spirit Motivator)

Selasa, 21 Juli 2009

PERSAINGAN

Inilah waktu untuk berkompetisi. Di era global ini jarang dan hampir tak ada yang bisa menjadi pemilik pasar. Semua lobang sudah terisi oleh persaingan yang ketat. Jika tak siap dalam dunia bisnis yang makin kompetitif, bisa dipastikan kita akan tereliminasi. Hal yang sama juga berlaku bagi kita sebagai pekerja. Jika potensi kita tak berkembang, atau prestasi kita sangat minim atau produktifitas kerja kita jauh dari kata efisien dan efektif, maka siap-siaplah kita meninggalkan kursi dan sebaliknya mempersilakan orang lain yang akan menempatinya.
Namun sungguh bijak seandainya kita tidak membenci situasi yang mengharuskan kita untuk berkompetisi, apalagi harus membenci pesaing kita. Sebab ada banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan dalam sebuah kompetisi jika kita bisa menyikapi dengan sudut pandang yang positif. Pertama, persaingan bisa menjadi bahan bakar untuk memacu perusahaan kita. Tanpa persaingan mungkin kinerja kita sangat biasa, namun setelah ada ancaman dari kompetitor mau tidak mau kita harus meningkatkan kinerja kita sebaik mungkin. Kalau tidak, kita akan mati!
Kedua, persaingan membuat kita tahu posisi kita. Keberhasilan pesaing bisa kita gunakan sebagai barometer atau tolak ukur. Paling tidak kita akan tahu apakah kita jauh tertinggal, ataukah sekarang ini kitalah yang jadi pemimpin pasar. Jika kita menyadari bahwa kita tertinggal, maka kita akan dengan cepat mengejar ketertinggalan itu. Ketiga, persaingan akan membuat kita makin kreatif dan inovatif. Tak ada istilah puas setelah mencapai titik tertentu. Bahkan ketika kita sudah menjadi market leader sekalipun, jika kita tak ingin posisi kita didahului oleh pesaing kita. Mau tidak mau kita akan terus berupaya untuk terus kreatif dan inovatif. Keempat, khusus bagi Anda yang hidup dalam persaingan di antara sesama rekan kerja, yakinlah bahwa dengan adanya persaingan maka Anda bisa memunculkan potensi terbaik yang Anda miliki. Anda akan terus melakukan personal improvement karena sebuah persaingan. Bukankah persaingan itu baik?
Tanpa persaingan maka kita akan menjadi statis, dan gagal mencapai yang terbaik dalam diri. Kwik (Spirit Motivator)

Rabu, 01 Juli 2009

BUMERANG

Ingat Australia, Anda pasti ingat dengan bumerang, alat berburu yang sangat khas dari suku Aborigin. Bumerang merupakan salah satu senjata yang unik dibandingkan dengan senjata-senjata lainnya. Apa keistimewaannya? Bumerang akan kembali dengan sendirinya jika tidak mengenai sasaran. Adanya pergeseran titik berat pada bumerang menyebabkan perputaran ke arah semula.

Geli juga ketika ingat pengalaman sederhana ini. Saya ada janji untuk ketemu dengan salah seorang teman. Karena teman tak kunjung datang, tak ada salahnya saya jalan-jalan di sekitar tempat itu dan mulai melihat barang-barang yang dipajang di sana. Just killing time, demikian pikir saya. Lalu ketika melihat sebuah barang yang cukup menarik, saya iseng bertanya harganya meski tidak ada niatan sama sekali untuk membeli barang itu. Ketika penjual menyebutkan harganya, sekali lagi saya iseng untuk menawar dengan harga yang sangat rendah, karena memang saya tidak ada niat sama sekali untuk membeli barang itu. Yang membuat saya jadi gelagapan adalah ketika si penjual tahu-tahu menurunkan barang itu dan memberikannya kepada saya, tanda jadi transaksi. Cukup menyesal karena saya sebenarnya hanya iseng saja, tapi sekarang harus merogoh kocek untuk barang yang tak ingin saya beli. Meski demikian, bersyukur karena saya dapat sebuah pelajaran berharga, hati-hati dengan setiap kata yang keluar dari mulut kita, karena itu bisa menyulitkan kita.

Bumerang bisa jadi senjata makan tuan, demikian juga halnya dengan perkataan yang keluar dari mulut kita. Perkataan yang tak tepat waktu untuk diucapkan, perkataan yang tidak tepat kepada siapa harus dikatakan, perkataan kosong, sembrono dan perkataan yang sia-sia kadangkala bisa menyulitkan diri kita sendiri pada akhirnya. Itu sebabnya orang bijak akan berpikir berkali-kali sebelum mengeluarkan satu perkataan, bukannya berkata-kata dulu baru kemudian berpikir dengan apa yang sudah dikatakan. Kalau kita mau sedikit lebih jujur, bukankah banyak kesulitan dan masalah yang kita hadapi sekarang ini sebagai akibat perkataan kita yang sembrono dan tak tepat pada waktunya?

Orang bijak mengeluarkan perkataan yang tepat, pada waktu yang tepat dan pada orang yang tepat. Kwik (Spirit Motivator)

Minggu, 21 Juni 2009

BERANI MELANGKAH

Anda tahu bungee jumping ? Ini termasuk “olahraga” ekstrim. Berada di ketinggian 40 – 60 meter, dengan kaki diikat tali, kemudian kita meloncat dan meluncur ke bawah hanya dengan tali pengaman diikat ke kaki kita. Pernah mencobanya ? Melihat orang melakukannya saja saya sudah ngeri, apalagi melakukannya.

Phil Keogan, penulis buku No Opportunity Wasted, sekaligus pembawa acara Amazing Grace memberikan salah satu resep untuk mendorong keyakinan kita, yaitu dengan melakukan bungee jumping. Dia berkata “Lompatan ini akan membawa anda melewati suatu ketidakpastian sampai ke sisi lain dari suatu daerah yang tidak anda kenal. Untuk melakukannya, anda harus mampu mendatangkan keyakinan pada diri sendiri.”

Di saat kita merenung-renung, hidup kita sepertinya sangat mirip dengan bungee jumping yang digambarkan Phil Keogan. Kita sering diperhadapkan dengan situasi yang tidak menentu. Jika kita memililki mental sukses, kita tidak hanya menunggu dalam ketidak pastian. Sayangnya kita kerap menunggu situasi baik dulu baru kita ambil tindakan. Kita menunggu situasi benar-bbenar kondusif, baru kita melangkah. Jelas, orang-orang seperti ini tidak akan pernah sukses . Mengapa ? Karena tidak akan ada situasi yang benar-benar kondusif !

Seperti halnya bungee jumping, kita harus berani melewati ketidakpastian tersebut dan terus melangkah. Inilah mentalitas sukses. Tidak hanya menunggu datangnya situasi baik, tapi memilih mendorong keyakinan di dalam diri untuk berani menghadapi tantangan dan melewati ketidakpastian. Memang saat melangkah, ada kalanya perasaan “ngeri”, was-was, hingga rasa takut muncul. Meski demikian kita harus menaklukkan rasa takut tersebut. Ingat, orang yang berani bukanlah orang yang tidak pernah merasa takut, tapi orang yang berani menaklukkan rasa takut. Melangkahlah! Bersama Tuhan, kita akan raih sukses! * Kwik (Spirit Motivator)

Senin, 15 Juni 2009

BELAJAR sampai ke Swiss

Anda tahu Negara Swiss ? Jika dibandingkan tetangganya seperti Perancis, Jerman atau Italia, nama Swiss mungkin tidak terlalu menonjol. Di buku-buku sejarah, jarang ada kisah kedigdayaan tentara Swiss. Negara itu memang dikenal sebagai Negara yang lebih suka mengambil posisi netral dalam bebagai pergolakan dunia. Keikutsertaan Swiss dalam peperangan, termasuk Perang Dunia justru sebagai penggagas organisasi Palang Merah, bukan penyerbu seperti Perancis, Jerman atau Amerika. Jika dibandingkan Indonesia, sumber daya alam Swiss juga tidak ada apa-apanya. Luasnya hanya sebesar wilayah Jawa Barat, penduduknya bahkan lebih sedikit dari Jakarta, sementara separuh lebih wilayahnya adalah pegunungan salju Alpen. Produk terkenal dari Swiss juga bukan emas dan minyak, tapi hanya benda-benda sekunder seperti jam tangan, coklat atau pisau lipat. Namun, dengan hal-hal kecil dan sejarah yang mungkin tidak terlalu ‘gagah’, Swiss menjelma menjadi salah satu Negara termakmur di dunia. Kesuksesan dan kemakmuran yang dialami Swiss sangat pantas menjadi bahan pelajaran bagi kita.

Sikap tidak suka konflik, tapi tekun dan mampu mengoptimalkan keterbatasan adalah beberapa hal positif yang bisa dipelajari dari Swiss. Apa gunanya salju ? Tapi masyarakat Swiss mengolah salju itu menjadi obyek wisata peraup devisa. Bagaimana bisa menang kalau tidak ikut perang ? Tapi sikap netral Swiss justru membuatnya antara lain dikenal sebagai Negara yang perbankannya paling terpercaya. Kondisi Negara yang aman juga membuat masih relatif banyak didapati bangunan tua yang terawat dan dimanfaatkan sebagai obyek wisata. Fakta-fakta ini membuat saya kagum dengan Negara Swiss. Keberhasilan Negara kecil itu sudah selayaknya membuat kita berkaca pada diri sendiri. Sukses dan kemakmuran tidak selalu dimiliki oleh mereka yang bermodal besar, multitalenta dan tidak harus diraih dengan prinsip menghalalkan segala cara. Sukses juga bisa diraih dengan ‘jalan damai’, bukan tergantung modal tapi kualitas yang dihasilkan dan ketekunan mengelolanya. Jadi, ketimbang mengeluhkan keterbatasan, mari belajar dari Swiss.* Arie (Spirit Motivator)

Kamis, 11 Juni 2009

MAKNA PEKERJAAN

Apakah anda bangga dengan pekejaan anda? Apakah anda melakukan setiap tugas-tugas anda dengan senang hati dan penuh tanggung jawab ? Ataukah hari-hari ini anda merasa begitu bosan dengan apa yang anda lakukan ? Apa alasan kita bekerja ? Apakah hanya untuk memperoleh nafkah dan menghidupi keluarga ? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini perlu kita renungkan dalam diri kita. Mengapa ? Karena jika anda dan saya tidak mengerti makna yang sebenarnya dalam semua pekerjaan kita, maka kita tidak akan pernah merasa bangga, senang, dan merasa bertanggung jawab dalam pekerjaan kita. Tidak masalah apapun jenis pekerjaan atau kedudukan kita hari ini, jika kita tidak mengerti makna pekerjaan kita maka tanggung jawab kita perlu menjadi tanda tanya besar.

Ada seorang berusia 60 tahun yang telah puluhan tahun bekerja di sebuah hotel. Tugasnya hanya sederhana, yaitu memastikan bahwa semua pintu kamar hotel bisa dibuka tutup dengan baik ! Setiap hari ia harus mengecek sebanyak 30 kamar dan ia harus benar-benar mengecek setiap engsel dengan baik. Coba bayangkan pekerjaan itu dilakukan bertahun-tahun. Bagi sebagian orang, tentu ini pekerjaan yang membosankan. Tapi apa kata orang itu ? Ia berkata, “ Pekerjaan ini bukan sekedar memeriksa engsel, tetapi lebih dari itu. Tamu-tamu di sini adalah para kepala keluarga, CEO perusahaan, direktur dan menajer. Saya tahu mereka semua bertanggung jawab atas keluarga dan juga ribuan karyawan mereka. Jika tiba-tiba hotel ini terbakar dan pintu kamar mereka macet, apa yang terjadi ? Mereka akan meninggal dan akibat buruk lain terjadi. Bukan hanya reputasi buruk bagi hotel ini tetapi keluarga dan ribuan karyawan bisa kehilangan nafkah. Jadi tugas saya bukan sekedar memeriksa engsel tetapi menyelamatkan para kepala keluarga dan pimpinan perusahaan.”

Bekerjalah tidak hanya untuk upah atau sekedar menyelesaikan tugas. Tetapi sudahkah kita merasa tugas kita akan memberkati orang lain ? Jika kita mengerti makna bekerja, yaitu untuk menjadi berkat dan membahagiakan orang lain, maka kita akan melakukannya dengan bangga, senang hati dan penuh tanggung jawab. * Sys (Spirit Motivator)

Senin, 08 Juni 2009

PERBESAR KAPASITAS

PERBESAR KAPASITAS

Sebuah Bank ternama menyelenggarakan undian secara periodik dengan hadiah utama mobil Lexus. Karena membayangkan alangkah bahagianya jika mengendarai Lexus tersebut, kita berdoa setiap hari kepada Tuhan agar nama kita yang muncul sebagai pemenang. Herannya, mengapa Tuhan kok sepertinya malah memberikan Lexus tersebut kepada orang lain dan bukan kita ? Yang pasti, Tuhan akan lihat kapasitas hidup kita dulu.

Misalnya benar-benar Lexus itu diberikan kepada kita yang notabene seorang karyawan biasa, betapa kacaunya hidup kita. Barang tersebut tidak akan menjadi berkat tapi justru akan menjadi bencana. Coba bayangkan, kita harus menanggung beban pajak sebesar 20% yang barangkali sama dengan gaji kita setahun.Saat mobil haruis diservisdan penggantian suku cadang secar rutin, kita harus rela mengorbankan pemenuhan kebutuhan keluarga demi mobil tersebut. Sebagai karyawan biasa, benarkah kita mau memenangkan Lexus ?

Tuhan selalu memberi menurut ukuran kapasitas kita. Misal dengan kapasitas listrik rumah yang hanya 450VA bisakah kita menggunakan perangkat elektronik seperti AC, kulkas, mesin cuci, home theater, computer, dan lain sebagainya ? Jelas tidak bisa karena kapasitas listrik tersebut tidak mencukupi. Jika kita ingin mempergunakan perangkat-perangkat tersebut, kita harus memperbesar kapasitas terlebih dahulu. Itulah poin yang saya maksudkan ! Jika ingin Tuhan mempercayakan hal yang besar , perbesar dulu kapasitas kita. Bagaimana cara memperbesar kapasitas hidup kita ? Perbesar hati kita. Miliki kerendahan hati, sikap lemah lembut, penuh kebaikan dan buah-buah Roh yang lainnya. Perbesar karakter kita. Jadilah orang percaya yang dapat dipercaya. Perbesar dan kembangkan potensi yang ada dalam diri kita. Terus belajar dan mencapai potensi yang maksimal. Yang tidak boleh dilupakan, setialah terhadap perkara-perkara kecil karena dari situlah lahir perkara-perkara besar. Jika kapasitas kita sudah besar, yakinlah bahwa Tuhan akan menyatakan hal-hal besar juga.* Kwik (Spirit Motivator)

Jumat, 05 Juni 2009

Pionir atau Pengekor

Di tahun 1903, Harry Andrews, seorang pelatih olimpiade dari Inggris mengucapkan pernyataan ini, "Rekor lari 1 mil adalah 4 menit 12,75 detik. Rekor ini tidak akan pernah lagi terpecahkan" Ada beberapa perdebatan seru dari para ahli mengenai hal ini. Menurut mereka, rekor saat ini sudah merupakan batas akhir pencapaian manusia dengan menimbang panjangnya tulang, kekuatan otot, susunan persendian manusia. Manusia tidak mungkin akan bisa menempuh jarak 1 mil dalam waktu kurang dari 4 menit. Kalau sampai melebihi kecepatan itu, bisa-bisa parunya akan pecah.

Adalah Roger Banister yang nekad berniat untuk memecahkan rekor itu meski semua orang berkata mustahil. Sampai akhirnyadi tahun 1954, ia benar-benar menjadi pelari pertama yang memecahkan rekor itu, 3 menit 59 detik ! Cerita ini belm habis sampai di sini. Yang menarik adalah setelah rekor itu terpecahkan, di tahun yang sama ada 2 orang pelari lainnya yang juga bisa berlari kurang dari 4 menit. Dan di tahun berikutnya, bahkan ada 236 orang juga bisa melakukan hal yang sama ! Roger Banister dikenang sampai hari ini bukan karena kecepatan rekornya, melainkan karena dialah yang menjadi pionir yang menjebol teori kemustahilan yang dipercayai selama ratusan tahun.

Apakah anda ingin menjadi pionir, atau pengekor ? Apakah anda ingin menjadi orang pertama yang berhasil melakukannya, ataukah harus menunggu sampai ada orang lain yang melakukannya terlebih dahulu ? Dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang gemar berpendapat bahwa ini mustahil dan itu tidak mungkin. Memang lebih mudah berkata 'ini mustahil' dari pada berkata 'ini memang sulit tapi saya akan menjadikannya mungkin' Mari pikirkan ini, apa hambatan dalam pikiran kita yang selama ini membelenggu potensi diri anda ? Apa saja hal yang selama ini anda anggap mustahil dalam pekerjaan anda ? Beranikah anda menjadi orang pertama yang akan membuat hal itu menjadi mungkin ? Tuhan menciptakan manusia dengan kemampuan yang luar biasa. Sayangnya, sebagian besar kemampuan kita itu hanya berakhir dengan tetap terkubur karena kita mengira bahwa hal itu mustahil.TMS (Spirit Motivator)

Rabu, 03 Juni 2009

Kawasan Bisnis Baru di Jalan Raya Bekasi Pulogadung - Jakarta Timur yang menyediakan Tanah dan Bangunan untuk Gudang, Kantor, Showroom, dan Workshop yang bernama " BIZPARK Commercial Estate ".

Kawasan BIZPARK dibangun oleh CIPUTRA Group di atas lahan seluas 14 ha, yang memiliki Sertifikat Hak Guna Bangunan Murni. Tipe Tanah & Bangunan yang tersedia antara lain: 12 x 30 ( 360 m² ), 12 x 36 ( 432 m² ), 12 x 42 ( 504 m² ) dan beberapa tipe khusus.
Lokasi BIZPARK berada 300 meter dari Pintu Tol Cakung dan 15 menit dari Kelapa Gading, juga didukung akses menuju dan dari Pelabuhan Tanjung Priok atau Bandara Soekarno Hatta yang dapat dicapai dalam waktu singkat.
Kawasan BIZPARK dirancang memiliki Sistem Keamanan 24 Jam, Bebas Kuli Bongkar, dan Bebas Banjir.
Untuk Tahap I telah terjual 100%. Saat ini dipasarkan Tahap II dengan didukung sistem Pembayaran Tunai Bertahap dan Kredit Pemilikan Gudang dari Bank Panin atau Bank Rakyat Indonesia.
Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, Bapak & Ibu dapat menghubungi kami melalui alamat Email : bizpark_jakarta@yahoo.com / bizpark.jakarta@gmail.com atau menghubungi :
> Erick Wijaya : 021 9299 0030 / 0813 1075 0030
> G a b r i e l : 021 688 11 259 / 0817 855 886 / 081 588 26 259

Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.
Sukses selalu untuk kita semua...

Pengikut